Anand Krishna

Bersama Anand Krishna Memahami Budaya Secara Mendalam dan Holistik

Anand Krishna tokoh spiritula humanis Indonesia yang juga dikenal sebagai seorang penulis produktif yang melahirkan buku-buku terkait dengan Meditasi, Yoga, Pemberdayaan Diri dan Kebijaksanaan Nusantara. Di dalam

Buku yang berjudul “Ananda’s Neo  SELF LEADERSHIP – Seni Memimpin Diri bagi Orang Modern” beliau menjelaskan tentang kesimpang siuran definis budaya.

Apa itu budya dan bagaimana budaya itu berperan di dalam kehidupan sehari-hari, mari sama-sama kita kutip sedikit penjelasan beliau yang tertuang dalam buku “Ananda’s Neo  SELF LEADERSHIP – Seni Memimpin Diri bagi Orang Modern”.

  

 

 

“… budaya berasal dari perkataan ‘budi’ yang dengan singkat boleh diartikan sebagai “ jiwa manusia yang telah masak’.

     Budaya atau kebudayaan tidak lain artinya daripada ‘buah budi manusia’. Di dalam bahasa asing kebudayaan itu dinamakan ‘kultur’ dan diartikan pula sebagai ‘buah budi manusi’. Perkataan ‘kultur’ itu berasal dari’cultura’ dari bahasa Latin, perubahan dari ‘colere’ yang berarti memelihar, memajukan, serta memuja-muja.”

Ki Hadjar Dewantara (1889-1959)

Bapak Pendidikan Nasional/ Pendiri Taman Siswa

 

 

Masih sering terjadi kesimpangsiuran dalam hal mendefinisikan kata “budaya”. Adakalanya “rasa malu” dianggap sebagai budaya, padahal itu sekedar norma, etika yang bersumber dari budaya. Kemudian, “rasa malu” itu pun berubah-ubah wujudnya dari satu budaya ke budaya lain.

Misalnya dalam hal berpakaian.

Bagaimana mendefinisikan cara berpakaian yang sopan dan ” tidak memalukan”? Tradisi, adat-istiadat dan cara berpakaian mana yang mesti dijadikan patokan bagi kesopanan, sekaligus “tidak memalukan”?

Di negeri kita sendiri, adalah suatu kebiasaan yang sama sekali tdak memalukan bagi perempuan Bali untuk mengenakan kemben atau berpakaian adat lainnya yang terasa ketat. Tapi, Aceh sudah pasti tidak bisa menerima cara berpakaian seperti itu.

 

Demikian pula dengan rasa-rasa lainnya. Misalnya, salah satu kepercayaan yang awalnya berkembang dalam wilayah peradaban tertentu dan nilai-nilai tertentu membenarkan penyembelihan binatang. Sebaliknya, kepercayaan lain, yang berkembang dalam wilayah peradaban yang berbeda, dan nila-nila yang berbeda pula, tidak membenarkan hal tersebut.

Mereka yang membenarkan penyembelihan hewan untuk keperluan apa saja tidak merasa melanggar rasa iba atau prinsip kasih terhadap sesama mahluk. Sementara, mereka yang tidak membenarkannya jelas-jelas memberi raa iba dan prinsip kasih sebagai alasannya.

Ada yang membenarkan poligami, ada yang tidak. Ada yang malah menerima juga poliandri, ada yang menolak. Demikian pula tentang keberadaan LGBT di tengah masyarakat.  Ada yang menerima, ada yang menolak, ada yang malah membenarkan pembunuhan terhadap mereka.

Apakah pembunuhan para LGBT merupakan nilai budaya atau sekadar norma yang barangkali dianggap benar oleh suatu kelompok masyarakat dan dianggap tidak oleh kelompok lain? Demikian pula penyembelihan binatang, dan norma-norma lainnya.

 

Beberapa waktu yang lalu terjadi polemik menyangkut pornografi dan porno aksi – siapa yang harus menjadi watchdog dan dasar apa yang harus dipakainya?  Banyak penari sal Yogyakarta sekarang menolak untuk menari, bahkan mempromosikan tarian Jawa, karena dianggapnya tidak sopan. Baju yang mereka pakai sangat terbuka.

Bila dasar itu yang dipakai, maka candi Sukuh dan Cetoh juga harus “disensor” atau “dikuburkan”. Nasib yang sama juga bisa menimpa sekian banyak arca-arca peninggalan zaman dahulu kala dan tradisi-tradisi Keraton. Lantas, bagaimana pula dengan Monumen Nasional kita yang terinspirasi oleh lambang lingga dan yoni – alat kelamin pria dan wanita sebagai Sumber Kehidupan, Sumber Kreativitas?

Adakah kita bisa menggunakan norma-norma masa lalu “para priyayi’ pada pemimpin dan pejabat masa kini? Para priyayi masa lalu tidak pernah asal tampil di publik. Para pemimpin masa kini mesti sering tampil di publik.

Apakah larangan-larangan  dan batasan-batasan bagi para priyayi masa lalu tersebut berlandaskan nilai budaya, atau sekadar kebiasaan – sekadar norma yanhg boleh berubah dari masa ke masa?

Dulu para priyayi ditentukan dari garis keturunan, dan para pemimpin umumnya adalah dari kalangan para priyayi. Sekarang seorang abangan pun bisa menjadi pemimpin. Apakah kita mesti melarang hal tersebut dengan alasan budaya kita tidak mengizinkannya?

 

Jika kita masih menggunakan idiom-idiom tempo doeloe, maka status seorang abangan yang menjadi pemimpin boleh dikata berubah menjadi priyayi. Sesuatu yang bisa dianggap tabu atau jarang terjadi di masa lalu.

Kemudian, seorang abangan yang sudah menjadi pemimpin itu tentunya wajib mengindahkan protokol negara yang sudah ditetapkan bagi para elite, para pemimpin. Ia tidak bisa lagi mempertahankan kebebasa abangannya yang pernah dinikmatinya.

Berarti, di zaman modern ini, abangan dan priyayi tidak lagi ditentukan oleh kelahiran atau garis keturunan, tetapi oleh jabatan. Sebab itu, mestinya tidak terjadi pertengkaran antara kedua kelompok tersebut.

Kedua kelompok itu dapat saling melengkapi dan saling menunjang. Demikian pula dengan kelompok ketiga, yaitu kelompok santri, yang dalam idiom modern boleh disebut kelompok cendikiawan atau intelektual.

 

Apa yang terjadi ketika seorang awam atau abangan menjadi pejabat? Apa yang terjadi bila seorang Santri diangkat menjadi pemimpin? Selama ia maih berjabat, maka lagi-lagi jika kita mengginakan idiom tempo doeloe, ia adalah priyayi.

Namun, tidak untuk selamanya menjadi priyayi. Keluarga dekatnya pun bisa mendapatkan segala fasilitas yang diberikan kepadanya, tetapi tetap saja semasa ia masih menjabat. Tidak untuk selamanyqa.

Yang jelas, saudara, sepupu, bahkan orangtua dan mertuanya tidak ikutan menjadi priyayi. Mereka tidak berhak atas segala fasilitas yang dimilikinya. Mereka mesti tetap bertahan sebagai abangan, santri atau apa saja sesuai dengan status social mereka masing-masing.

Dan, ada kalanya bila urusan mereka tidak begitu penting, mereka harus antre di belakang Anda yang mungkin punya urusan lebih penting untuk bertemu dengan sang pejabat atau “priyayi sementara”.

 

Berarti, Ke-riyayi-an pun bukanlah bagian dari budaya, tetapi hanya satu adat. Adat yang bisa berubah mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman.

Pembagian masyarakat berdasarkan status sosial, profesi, kepercayaan, dan lain sebagainya bukanlah sesuatu yang universal dan untuk selamanya.

Jika menggunakan definisi Ki Hadjar Dewantara, yaitu “buah budi manusia” atau “jiwa manusia yang telah masak”, maka akan terasa lebih aneh lagi. Apa hubungan pakaian, profesi, jabatan dan sebagainya dengan buah budi manusia atau jiwa manusia yang sudah matang?

Banyak orang berbaju rapi, tapi tidak punya rasa malu, tidak sopan. Sebaliknya banyak orang asing berkeliaran dengan baju yang boleh kita anggap tidak rapi dan melanggar tata susila justru lebih sopan.

Banyak pula pejabat yang belum matang. Ada yang setengah matang, ada yang seperempat matang, ada yang dipaksa matang, ada yang malah masih mentah. Tapi, sudah menjadi pejabat. Nah lo!

 

Kesimpangsiuran lain yang sering terjadi adalah menyalahtafsirkan seni sebagai budaya, atau kadang digabung secara bebas tapi kurang arif sebagai seni budaya.

Kemerosotan budaya yang terjadi di negeri kita adalah hasil dari keimpangsiuran seperti ini. Kita mengembangkan seni, mengaitkannya dengan pariwisata, dan menganggap sudah melestarikan budaya.

Seni bisa disebut sebagai produk dari budaya, salah satu produk, bukan satu-satunya. Dan, jelas tidak bisa didudukkan sejajar dengan budaya, yang merupakan induknya.

Bahkan banyak pula bentuk seni yang berkembang saat ini sama sekali tidak merupakan produk dari budaya, tetapi produk dari pasar, dan bersifat komersial semata. Tidak ada kematangan apa pun didalamnya, karena memang dikembangkan, dikemas, dan dipasarkan sebagai merchandise saja.

 

Kembali pada definisi Ki Hadjar Dewantara: “… budaya berasal dari perkataan ‘budi’ yang dengan singkat boleh diartikan sebagai “ jiwa manusia yang telah masak’.

     Budaya atau kebudayaan tidak lain artinya daripada ‘buah budi manusia’. Di dalam bahasa asing kebudayaan itu dinamakan ‘kultur’ dan diartikan pula sebagai ‘buah budi manusi’. Perkataan ‘kultur’ itu berasal dari’cultura’ dari bahasa Latin, perubahan dari ‘colere’ yang berarti memelihar, memajukan, serta memuja-muja.”

 

Seorang seniman tidak serta-merta bisa disebut budayawan, kemudian kementrian atau direktorat untuk urusan budaya diserahkan kepadanya untuk diurusi.

Bahkan untuk mengurusi kementrian atau direktorat urusan budaya, siapa saja bisa, dengan latar belakang apa pun boleh, asal dia sudah berbudaya. Berbudaya dalam pengertian jiwanya sudah masak, sudah matang. Singkatnya, seorang yang bijak. Ya, seorang budayawan adalah seorang yang beradab, bijak.

 

 

Sumber:

Judul Buku : “Ananda’s Neo  SELF LEADERSHIP – Seni Memimpin Diri bagi Orang Modern

Penulis : Anand Krishna

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2017

 

Kuliah Umum ASTA BRATA Bersama Anand Krishna

Bagi yang masih teratrik untuk mendalami pemikiran Beliau terkait dengan kebijaksanaan Nusantara, Anda bisa membaca buku-buku buah karya Beliau yang bisa Anda dapatkan di sini!.

Selain melalui buku, Anda juga bisa menyimak ceramah beliau melalui Channel YouTube, yang secara rutin mempublikasikan cermah-ceramah Beliau yang kaya akan mutiara spiritual. Salah satunya adalah video Kuliah Umum ASTA BRATA ini, dimana di dalam video tersebut. Beliau menjelaskan dengan mendalam filosofi dan makna dari ASTA BRATA, mari sama-sama kita simak penjelasan Beliau.

 

Dalam Buku Yoga Sutra Patanjali Anand Krishna Ungkap Rahasia Yoga Secara Holistik
Anand Krishna Jelaskan Tentang DMT dan Pengalaman Spiritual
Anand Krishna Jelaskan Makna Tersembunyi Dari Asta Brata
Anand Krishna Center Singaraja di Resmikan
Pandangan Anand Krishna Terkait dengan Awarness (Kesadaran)
Kiat Total Success Ala Anand Krishna
Anand Krishna Ungkap Makna Tersembunyi Dalam Mahabharata
Buku Yoga Terbaik Buah Karya Anand Krishna
Buku Panduan Kehidupan Ala Anand Krishna
Bersama Anand Krishna Memahami Budaya
Anand Krishna Mengungkap Rahasia Karma
Anand Krishna Ungkap Rahasia Saraswati
Anand Krishna Bagi Tips Menghadapi Kematian Tanpa Rasa Cemas
Anand Krishna Sampaikan Pesan Kearifan Lokal Nusantara dari Danau Toba
Anand Krishna Kupas Bhagavad Gita Online
Anand Krishna Membagikan Mutiara Spiritual
Anand Krishna Mengungkap Cara Membaca Mimpi & Cara Mengatasi Pikiran Negatif
Anand Krishna Mengungkap Rahasia Candi Sukuh
Anand Krishna Mengungkap Rahasia Hantu dan Roh-Roh Bergentayangan
Anand Krishna Ungkap Rahasia Dewa/Dewi Dan Alien
Pandangan Anand Krishna Tentang Amarah